My Ride with GrabHitch

Hi all, kali ini aku mau sharing sedikit mengenai pengalamanku menggunakan ojek online. Sebenarnya ojek online mungkin sudah bisa dibilang transportasi utama aku dalam bermobilitas ke manapun. Kalau lagi sendiri ya. Alasan utamanya ya ngga lain karena malas bermacet-macetan di jalan. Macet sih tetap aku hadapi malah ditambah panas, gerah dan pastinya rambut lepek. Tapi menurutku itu masih mendinglah dibanding harus stuck di dalam mobil di tengah kemacetan. Bahkan betis dan telapak kakiku warnanya sampai belang karena aku gemar pakai celana kulot dan flat shoes. Kebayang kan seberapa tereksposnya kulit ku dan ganasnya sinar matahari selama naik ojek. Hehehehe.

Kebetulan tadi malam aku dari daerah Duren Tiga bermaksud untuk pulang ke rumah di Duren Sawit. Aku cek harga GrabBike dan masih mahal sehingga aku memutuskan untuk naik TransJakarta sampai GOR Sumantri Pasar Festival, karena dari situ sudah tidak terlalu jauh dari rumahku. Sesampainya di Pasar Festival, aku segera memesan GrabBike. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya aku mendapatkan GrabBike yang bersedia mengantar. Namun, setelah aku telepon driver nya ternyata beliau sedang tambal ban dan sepertinya membutuhkan waktu lama. Jadilah aku cancel order. Aku kembali memesan GrabBike hingga 2 kali berikutnya, dan para driver tidak bisa mengantarku karena jarak tujuan cukup jauh. Aku mencoba memesan GrabBike namun harga sudah naik. Akhirnya aku mencoba fitur Grab yang belum pernah aku coba yaitu GrabHitch. Selain harganya jauh lebih murah, aku pun berpikir, driver ngga akan alasan tujuanku kejauhan karena harusnya tujuanku searah dengan tujuan mereka. Setelah 10 menit akhirnya ada GrabHitcher yang menerima permintaan GrabHitch ku. Setelah aku telepon, ternyata beliau masih di daerah Tanah Abang, cukup jauh dari Pasar Festival tapi yasudahlah daripada harus mencari dan menunggu lagi. 20 Menit kemudia, GrabHitcher datang dan ternyata rumah beliau tidak jauh dari rumahku. Akhirnya setelah satu jam mencari GrabBike, aku berhasil sampai di rumah dengan biaya yang jauh lebih murah dan somehow ngga perlu merasa ngga enak ke driver nya karena jalanan menuju rumahku macet dan jauh. Hehehe. Karena kan memang mereka pasti akan melewati jalan itu juga.

Setelah ngobrol-ngobrol dengan driver nya selama perjalanan, jadi GrabHitch itu semacam nebeng atau numpang dengan orang lain yang mempunyai tujuan yang sama atau setidaknya searah. GrabHitch agak berbeda dengan GrabBike karena ngga bisa memesan dan langsung dijemput. Kita harus membuat advance booking paling cepat untuk 15 menit ke depan, karena kan jatuhnya seperti janjian dengan orang. Jadi kalau ada rencana pergi atau pulang, dan kita sudah tahu waktu tepatnya, kita bisa memesan GrabHitch dari berjam-jam sebelumnya untuk minta dijemput di jam sekian misalnya. Dan yang terpenting, harganya jauh lebih murah loh daripada GrabBike, mungkin karena kita ibaratnya hanya patungan bensin saja kali ya. Menurutku fitur ini seru banget dan mungkin meminimalisir penolakan dengan excuse tujuan kejauhan. Hiks. Padahal Duren Sawit masih masuk Jakarta kok, ngga jauh – jauh amat. Mungkin untuk selanjutnya aku akan mencoba GrabHitch lagi 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s