The Joyful of Writing

Pernah ngga sih merasa mumet banget? Gelisah, cemas, pusing dalam satu waktu yang bersamaan? Sebenarnya aku sudah lama mengalami hal seperti itu, tapi akhir-akhir ini aku merasa seperti semakin tidak terkontrol. In my mind, there are tons of thoughts running every time. Dan pikiran-pikiran itu terkadang overlaps. Selalu muncul disaat yang ngga ngenakin banget. Mostly saat aku berusaha untuk tidur malam yang mana membuat aku sulit tidur dan jadinya bangun kesiangan. Kadang juga saat aku sedang di transportasi umum atau terjebak kemacetan. Namun saat aku di jalanan biasanya aku masih bisa mengatasinya dengan membaca artikel di smartphone atau menggunakan aplikasi language learning di smartphone supaya aku bisa terdistraksi dari pikiran-pikiran yang ngga henti-hentinya muncul di otak ku. Membaca buku juga cukup menolong di saat aku lagi senggang atau terjebak macet.

Tapi memang akhir-akhir ini, aku merasa pikiranku semakin tidak terkontrol yang membuatku mengalami mood swing, migrain, tidak fokus dalam melakukan apapun dan feel a little bit miserable. Dan sekarang aku sedang mencoba untuk mengatasinya atau mungkin lebih tepatnya menyalurkan pikiran-pikiranku ke dalam tulisan di jurnal harianku. Sejak SD aku sebenarnya suka sekali menulis buku harian. I think i have like more than 10 diaries with me and i still keep those in a storage box in my room. Namun kegiatan tersebut terhenti saat aku selesai kuliah. Kesibukan kerja dan kemajuan teknologi sangat menyita waktuku dan membuat aku meninggalkan kegemaranku menulis. Tanpa aku sadari bahwa menulis menjadi semacam terapi kecil-kecilan dan sarana untuk mengekspresikan perasaan dan pikiranku. Sekitar satu minggu lalu, aku memutuskan untuk mencoba kembali menulis apa saja yang ada di pikiranku ke dalam buku memo yang selalu aku bawa di tasku kemanapun aku pergi. Yes, memang aku selalu membawa memo dan alat tulis kemanapun aku pergi just in case aku butuh mencatat atau menulis sesuatu hal penting di jalan. Tapi aku tidak sadar bahwa justru hal yang setiap hari aku bawa itulah yang ternyata adalah salah satu sarana penting untuk menyalurkan pikiranku. Setiap hari, when i feel like i need to say something to myself or just a review of my day, i write it in my memo and unexpectedly i feel a little bit better. Mungkin memang bukan langkah besar, tapi setidaknya aku bisa menemukan kembali sedikit joyfulness dari menulis.

Aku tidak tahu apakah hanya aku yang merasa kurang bisa mengkontrol pikiran-pikiranku (or maybe just because i’m not good at expressing myself by speaking), atau memang begitulah efek samping dari penduduk kota metropolitan yang harus menghadapi kemacetan 24 jam dan stres pekerjaan? I don’t know. But i feel a little bit relieve that i find something that could makes me happy again. Even if just a little bit. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s