A Simple Life Goal

Couple days ago, someone asked me “What is your next goal?” and the question left me stunned. Actually because my brain always freeze whenever I have to think quickly then I was stunned because I didn’t know what to answer. Mungkin bisa dibilang aku orang paling santai or you may say Lost. Karena sampai saat ini aku belum tahu tujuan terbesarku apa. Selama ini aku menjalani hidupku sejalannya aja. Kalaupun ada goal, it most likely a short term goal. Dan saat itu aku hanya menjawab destinasi-destinasi travelling yang menjadi targetku selanjutnya. Kemudian pertanyaan selanjutnya menghampiri, kalau memang travelling adalah goal aku, isn’t it too self-center goal? because people won’t feel the impact of my goal. It will only me who can feel the impact of my goal. Aku pun kembali tercenung. Ya betul juga sih. Selama ini travelling selalu menjadi mimpiku. Melihat dan memburu tiket pesawat, bukan hanya buat diriku sendiri tapi kadang hanya sekedar bantu teman cari tiket murah untuk liburan pun, aku melakukannya dengan sukarela dan semangat. Melihat peta dunia, membuatku semakin termotivasi untuk travelling. Memang pada akhirnya akan sangat self-center karena aku tidak memberikan kontribusi untuk orang lain dari mimpiku. Padahal sebaik-baiknya manusia, bukankah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain? (yaudahlah ya yang penting aku ngga nyusahin orang, kalo ngga bermanfaat paling ngga jangan nyusahin gitu hahaha) Berawal dari pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang selalu berhasil membuat jadi galau. Kadang suka merasa ‘is there something wrong with me because I don’t set goal or as ambitious as other people?’ ‘am I normal?’ 

Pertanyaan selanjutnya pun masih muncul. Terus mendesak dengan pertanyaan “what is actually your goal?” maybe simply because travelling is just a weird choice of answer so it won’t satisfy them. Yang kemudian aku akhiri dengan jawaban ‘I just want to be happy’. Klise kan? Iya emang klise. Ya mungkin mereka mengharapkan jawaban semacam jadi Managing Partner di perusahaan konsultan terkemuka, jadi wakil Indonesia di forum PBB atau bahkan astronot jebolan NASA. Pas denger jawaban klise macem pengen bahagia ya pasti bengonglah. Mungkin karena ukuran bahagia itu sangat personal. Sangat sulit untuk diukur secara kuantitatif. Tapi aku berpikir begitupun dengan kesuksesan. Buatku sukses hanya bisa terukur secara personal. Sangat kualitatif. Patokan seseorang untuk sukses pun aku pikir kayanya sulit ya. Seperti apa? apakah seperti jawaban yang aku sebutkan di atas? Menjadi seseorang yang lebih secara materi? atau menjadi seseorang yang terpandang di masyarakat? Kalau seperti itu, ngga semua orang bisa dikatakan sukses dong. Padahal minat dan kemampuan tiap orang itu berbeda-beda.

Terkadang suka sedih juga kalau goal-goal kita suka dipandang sebelah mata. Memang sih katanya goal so big. Tapi ngga semua orang harus rame-rame bikin goal terbang ke bulan. Terus-terusan ditanya apa goal nya dan mengernyit kebingungan saat mendengar jawabannya juga bikin kesel sih. Setiap orang punya preferensi masing-masing, Setiap orang punya bahagia dan sukses versi masing-masing. Karena menurutku ukuran bahagia dan sukses yang sering kita rasa saat ini, hanyalah bentukan dari masyarakat. Standar yang dibuat oleh masyarakat. Namun pada akhirnya bahagia dan sukses itu sangatlah personal.  Lagipula life is not a race kok. Kompetisi itu memang bagus untuk membuat kita tetap menelurkan sesuatu yang baik, untuk memiliki prestasi, untuk tetap termotivasi biar terus maju. Tapi kalau sudah menyangkut hal-hal yang diluar kontrol manusia, kok ya masih tega banding-bandingin jalan hidup seseorang dengan orang lain. Also just like a wise man said “My goal is not to be better than anyone else, but to be better than I used to be.” Terkadang kita justru harus mengalahkan ego, rasa malas, self-doubt ataupun the devil inside our mind , just to be a better version of us each day. Dan itu sama sekali tidak mudah.

Halah jadinya malah ceramah. Padahal tadinya mau ngegalau. Yah sebetulnya aku hanya berharap people will be more considerate, thoughtful and respect other people choice of life. Selama pilihannya ngga melanggar norma-norma yang ada. By the wayI write this while watching Korean show about travelling and tasting the local food. Menyenangkan banget ngga sih, dibayar untuk jalan-jalan dan wisata kuliner? Hiks. Ku pengen juga kaya begitu. Mudah-mudahan ya suatu hari nanti. (Aminin dulu ajalah hehe).

So, bye for now. May we be a happy and kind people. 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s