Tentang Sosial Media

“Aduh, serem banget sih ini!”

Kegiatan menonton TV sambil menonton YouTube ku (iya, aku se-multi tasking itu orangnya) terhenti saat mendengar suara mamaku yang sedang tiduran sambil mengernyit ke arah layar Samsung-nya tidak jauh dari sofa tempatku duduk. Kontan aku ikut melihat ke arah layar telepon genggam mama ku. Dan pemandangannya berikutnya sangatlah menyeramkan. Sebuah video seorang laki-laki yang bersimbah darah dan kelihatan dagingnya di bagian lengan. Aku yang suka bawel kalau ada video tidak pantas seperti itu di handphone mama ku pun langsung mewanti-wanti beliau untuk segera menghapus video tersebut. Aku tidak mau keponakan-keponakanku tidak sengaja melihat video tidak pantas seperti itu nantinya. Karena mereka cukup sering memainkan handphone neneknya, sebetulnya hanya asal pencet-pencet saja tapi kan siapa tahu ngga sengaja kepencet video tersebut kan. Aku yang gusar setelah melihat video tersebut pun segera meminta mama ku untuk menulis balasan di Group WhatsApp mama ku tersebut untuk tidak menyebarkan video seperti itu lagi. Selanjutnya aku kurang tahu juga apakah mama ku benar langsung menegur si pengirim atau membiarkan saja.

Jujur saja, hal-hal seperti itu benar-benar membuatku gusar. Terkadang Group WhatsApp itu menjadi tempat yang tepat untuk menyebarkan misleading information ataupun video-video dengan konten yang tidak pantas. Bukannya menyalahkan platform nya, karena hari gini siapa juga yang tidak pakai dan tidak merasa terbantu hidupnya dengan keberadaan aplikasi WhatsApp. Namun terkadang pengguna cenderung tidak berhati-hati dalam memanfaatkan aplikasi tersebut. Contohnya yang paling sering ya itu tadi, menyebarkan misleading information. 

Salah satu hal yang paling aku benci selain penggunaan eyeshadow biru dan silver di mataku, adalah penyebaran misleading information. Dan yang lebih aku benci lagi adalah orang yang ngotot mengaplikasikan eyeshadow biru dan silver di mataku  orang yang menelan mentah-mentah misleading information tersebut dan kemudian menyebarkannya ke orang lain atau menjadi tersulut emosinya karena hal tersebut. Sering aku berpikir, orang-orang itu apakah tidak berpikir dulu atau mempertimbangkan dulu sebelum meng-klik tombol kirim/meneruskan? Berpikir apakah informasi yang disebarkan itu sudah benar. Berpikir apakah informasi yang dibagikan bermanfaat bagi orang lain. Berpikir apakah video atau foto yang diteruskan ke orang lain ada manfaatnya instead of membuat orang lain merasa takut. Apakah sebegitu besar rasa malasnya untuk mencoba melakukan cek dan ricek fakta atau mencari komparisi pada artikel ataupun berita lain untuk melihat dan membuat kita berpikir mengenai kebenaran informasi yang kita terima. Hmm atau mungkin karena keterbatasan pengetahuan teknologi juga mungkin ya. Karena kan tidak bisa dipungkiri bahwa pengguna sosial media itu tidak hanya anak muda modern di kota megapolitan macam Jakarta, tapi juga dari berbagai usia hingga berbagai kalangan. Yah okelah kalau soal penyebaran informasi, mungkin kebanyaka orang terbatas dengan gagap teknologi ataupun minim sumber informasi lainnya, tapi pasti di dalam satu grup ada kan setidaknya satu saja yang memiliki kemampuan critical thinking ataupun pintar sehingga setidaknya bisa menegur atau memberi tahu mana informasi yang benar atau yang salah. Tapi kalau video atau foto yang mengandung konten tidak pantas sepertinya sudah menjadi etika dasar ataupun common sense seseorang mana yang pantas untuk dilihat mana yang tidak pantas untuk dilihat.

Kemajuan teknologi seperti maraknya aplikasi sosial media seharusnya membuat orang-orang semakin maju dan kreatif tapi kenapa terkadang malah membuat orang-orang makin liar, kepo, judgmental, nyinyir dan lain-lain ya? Yah sesungguhnya akupun masih menjadi pengikut akun gosip juga kok. Dan sekarang sedang dalam masa rehabilitasi untuk meng-unfollow beberapa akun gosip lainnya (tadinya follow lebih dari satu, sekarang tinggal satu saja hahaha).

Ngga cuma WhatsApp sih. Aplikasi semacam Path, Facebook ataupun Instagram sekarang pun sering disalahgunakan oleh pengguna aplikasi entah untuk menyebarkan hate speech, misleading information ataupun aktualisasi diri. Entah apakah ini terjadi pada orang lain atau hanya pada aku saja (yang mungkin aku anaknya terlalu bawa perasaan ya hahaha), terkadang aku merasa Path ataupun Instagram membawa dampak yang negatif bagiku. Isi dari timeline ku pada kedua aplikasi tersebut sempat membuatku merasa insecure terhadap diriku sendiri. Dalam timeline Path ku sendiri, sering aku menemukan posting-an mengenai liburan, prestasi seseorang (baik dari karir maupun fase hidup, opini, curhatan, makian terhadap sesuatu, bahkan hal yang paling tidak penting sekalipun yaitu waktu seseorang tidur dan waktu seseorangg bangun. Hal tersebut mungkin biasa saja untuk kebanyakan orang. Tapi untukku pribadi, aku merasa terganggu. I don’t wanna know when you sleep, I don’t wanna know when or where you awake (but I’m more interested in with whom you sleep and with whom you awake, it can be two different person rite?), I don’t wanna know what music you listen to and mostly I don’t wanna know if they had a fight with their spouse etc. Dan melihat foto-foto liburan dan prestasi-prestasi seseorang, oh Tuhan rasanya aku langsung mempertanyakan keadaan diriku sendiri. Kok mereka hidupnya enak banget sedangkan aku terdampar di kubikel ku yang lebih mirip wartel ini?. Belum lagi membaca keluhan-keluhan yang rasanya aku ngga ingin tahu tapi jadi tahu dan akhirnya membuat aku kepo dan membanding-bandingkan hidupku dengan mereka. Ngga cuma itu, puncaknya adalah saat aku merasa aku menjadi seperti orang-orang yang aku pertanyakan tersebut. I started posting about the music I listen to, places I went to, my holiday photo, etc. Hingga akhirnya aku mempertanyakan diriku sendiri sebelum aku meng-klik tombol share. Apakah sebegitu pentingnya musik yang aku dengarkan sampai aku ingin orang-orang lain tahu. Apakah sebegitu pentingnya lokasiku dimana sampai aku ingin orang-orang lain tahu posisiku dimana. Belum lagi perasaan insecurity yang terus menghantui. Membuatku ikut dalam perlombaan ‘siapa yang hidupnya paling asik’. Ketika aku menyadari bahwa penggunaan Path sudah tidak sehat bagi mentalku, I finally quit Path and deleted my account. And I felt so much better after that. Memang sih tidak semua orang merasakan hal seperti itu. Aku selalu berpikir ya mungkin memang hanya aku saja yang terkena dampak negatifnya.

Lain lagi dengan Instagram. Instagram yang awalnya aku pikir hanyalah album foto online, platform untuk aku melihat kehidupan public figure (khususnya artis Korea) secara lebih personal, but it end up, again, sebagai tempat aktualisasi diri. Sulit. Padahal aku hanya ingin bersenang-senang di sosial media dan intinya cuma pengen tahu kehidupannya G Dragon, tapi lagi-lagi aku terjebak dalam nostalgia (itu mah Raisa) akun-akun gosip, akun pertengkaran antar selebgram, akun ABG labil, ya Tuhan sebegitu ngga pentingnya memang isi Instagram yang aku ikuti. Sampai akhirnya aku kembali bebersih daftar akun yang aku ikuti hanya supaya pikiranku bisa lebih sehat lagi, ngga melulu ngurusin artis A yang merebut suaminya artis B. And yes, you’re right. I mostly follow Korean Idol and Actor account. Dan ngga usah disebut tentang betapa foto-foto polesan orang lain (mostly Selebgram) di Instagram yang membuat pikiran ‘o My God kenapa hidup dia sempurna banget’, padahal kan ngga ada yang sempurna ya. Percayalah namanya juga orang, ngga mungkin naruh foto saat mereka sedang nangis patah hati, bon tagihan kartu kredit yang over limit , atau saat berantem dengan orang tuanya. People post a happy picture. And sometime they polish it with some filter to make it look good. So be wise to judge something. We never know what happen behind that curtain. Dan aku baru saja menemukan artikel menarik tentang efek Instagram pada tradisi pernikahan di Indonesia. Yes, pernikahan yang berawal untuk pesta keluarga besar dan kerabat saja sudah bikin kepala pengen pecah, ditambah lagi pernikahan demi 1000 likes di foto Instagram.

Yah begitulah kira-kira sekilas tentang sosial media. Sisi positifnya pasti banyak. Bisa menyambung tali silaturahmi dengan teman-teman, kerabat, keluarga bahkan perasaan lebih dekan dengan public figure. Namun, efek negatif juga pasti ada. Tergantung bagaimana kita sebagai pengguna melihat dan menerima informasinya saja. Semoga kita ngga polos-polos banget dalam menggunakan aplikasi sosial media. Semoga kita bisa untuk memilih-milih orang di sosial media. Kalau di kehidupan nyata kan kita harus pilih-pilih teman ya mana yang baik mana yang rese. Sama juga dengan orang-orang di dunia maya. Harus pinter-pinter pilih orang yang lebih banyak membawa kebaikannya daripada keburukannya untuk diikuti. Dan terkadang benar juga apa katanya Madonna, you only see what your eyes want to see. How can life be like you want it to be. You’re frozen, when your heart’s not open. Jangan lupa untuk mengedukasi diri sendiri dan orang-orang terdekat untuk melawan hoax, misleading information dan abusive/inappropriate content video. 

Jadi panjang kan ceritanya, padahal tadinya cuma pengen mengeluarkan uneg-uneg soal video berisi abusive content itu saja. Oke, ciao for now. Gotta go to sleep. Byee 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s