Tentang Fan Girl-ing Korean Wave

Saat ini Korean Wave atau yang biasa dikenal dengan Hallyu Wave sedang panas-panasnya merasuki kehidupan remaja-remaja di Indonesia. Ngga remaja juga sih, karena aku juga ketularan hahaha (and almost 30 totally can not be counting as teenager, right?). Korean Wave ini bentuk nya macem-macem, ada yang bentuk lagu seperti Korean Pop, Korean Hip Hop, Korean Indie, dan lain-lain pokonya musik-musik Korea lah. Ada Korean Variety juga, mungkin yang paling terkenal di Indonesia setahuku si Running Man ya, tontonan wajib anak kuliahan tingkat akhir karena mereka banyak gabut nya ngurusin skripsi. Ada juga yang dalam bentuk Korean Drama. Duh jangan ditanya ke para cewe-cewe deh kalo soal Korean Drama, paling ngga mereka tahu lah siapa itu Song Joong Ki, Descendants of The Sun, atau kalo ada yang ngaku taunya cuma Winter Sonata pasti umurnya 25 keatas deh, drama udah lama banget soalnya. Dan sebetulnya masih banyak banget lah pengaruh-pengaruh Korean Wave ini di Indonesia, or can I say the whole world? Mengingat video klip nya Psy yang Gangnam Style broke YouTube video limit dan bertahan sebagai the most viewed video on YouTube walaupun baru-baru ini dikalahkan oleh Video Klip See You Again.

Aku sendiri mulai suka Korean Pop (K-Pop) sejak tahun 2012. Lama juga ya hahaha. Pertama kali jatuh ke perangkap K-Pop karena ngeliat video live performance 2NE1 di MAMA 2011. It was totally breathtaking buatku. Sampe aku merinding nontonnya karena keren banget. Mulai dari situ aku jadi penggemar beratnya 2NE1, bahkan aku hafal semua judul lagu yang pernah dirilis 2NE1, tapi kalau disuruh sebutin 2 lagu Indonesia yang lagi hits sekarang, aku bener-bener ngga tahu loh. Hahaha. Setelah Kpop, aku mulai eksplor jenis-jenis musik Korea lain seperti K-Hip Hop, K-Indie bahkan lagu khas Korea yaitu jenis lagu Trot, kalo di Indonesia sih musik dangdut gitu ya. Kesukaanku akan sesuatu yang berbau Korea semakin besar semenjak aku kenal Running Man. Ini variety show menurutku lucu parah. Sangat menghibur, kocak, tim produksi nya niat banget untuk menciptakan plot acara dan properti, aduh salut deh pokonya sama Running Man. Tapi entah kenapa sampai saat ini aku kurang suka nonton Korean Drama. Menurutku seperti drama-drama lainnya, Korean Drama kebanyakan jual mimpi. Ya iya juga sih, kalo jual realitas jadinya berita kriminal sih. Tapi banyak juga loh yang heran pas tahu aku ngga suka Korean Drama, karena entah kenapa kebanyakan orang menganggap orang yang suka Korea itu identik dengan kerasukan Korean Drama dan jadi kebanyakan mimpi. Padahal Korean Wave ngga hanya sebatas Korean Drama aja loh. 

Kadang-kadang, mmm ya ngga kadang-kadang sih, keseringan lebih tepatnya, kesukaanku akan Korea-koreaan ini dianggap udah ngga normal sama orang-orang. Dan kebanyakan orang-orang yang ngga deket-deket banget yang menilai aku fanatik banget sama Korea sampe mereka suka memberikan opini yang kadang bikin aku pengen kimchi-slap mereka. By the way, tau Kimchi-Slap ngga? Ituloh, nampar orang pake daun kubis atau lobak yang jadi bahan utama kimchi.

Terkadang aku ngga ngerti kenapa kebanyakan orang memandang sebelah mata dan nyinyir banget terhadap kesukaan seseorang akan produk dari Korean Wave. Yang pasti mereka beranggapan kalau Fans Korean Wave itu lebay alias berlebihan. Image yang menempel di pikiran mereka adalah cewe-cewe yang teriak-teriak ‘Oppa’ dan ‘Saranghae’ sambil nangis-nangis, mengkoleksi semua album dan majalah yang ada artis Korea nya, masang pin up atau poster artis Korea di kamar and so on and so on. Ya mungkin ada sebagian orang yang seperti itu tapi kan ada juga sebagian orang yang tidak seperti itu. Penggemar itu kan bisa dibagi dalam beberapa tahap, ada penggemar berat, penggemar cukup ngikutin dan update tapi masih dalam taraf sedang ataupun hanya penikmat. Aku pribadi tidak suka kalau ada yang menggenaralisi seluruh penggemar Korean Wave menjadi penggemar fanatik. Lagipula toh menggemari Korean Wave itu kan bagian dari bentuk kegemaran sesorang terhadap sesuatu. Sama seperti laki-laki yang menjadi penggemar berat klub sepak bola Liverpool, yang menjadi penggemar Coldplay, penggemar Play Station, atau wanita-wanita yang menggemari make-up, anime dan lain-lain lah. Tapi herannya kenapa harus kegemaran seseorang akan Korean Wave yang seringnya dicibir. Hiks.

Padahal buatku pribadi banyak hal positif yang aku dapat dari menggemari Korean Wave. Dalam hal Kpop, aku sangat salut dengan para Kpop Idol. Mereka ngga cuma dede-dede gemez yang kegiatannya ngopi-ngopi cantik di convenience store tapi dari umur 10 tahun mereka sudah punya mimpi untuk jadi Idol dan berjuang untuk bisa masuk agensi hiburan yang nantinya akan men-debutkan mereka ke dunia hiburan. Dan untuk bisa debut bukanlah suatu hal yang gampang. Ada Idol yang butuh waktu 10 tahun menjadi trainee sampai akhirnya bisa debut di suatu grup Idola. Nah persistensi mereka inilah yang membuatku terinsipirasi. Jadi Idol ngga gampang sama sekali sih kalo berdasarkan yang pernah aku baca ya. Hal-hal yang harus dilalui macem-macem mulai dari diet ketat, olahraga keras, latihan dance sampai larut, latihan vokal, pelajaran bahasa asing (karena mereka harus promosikan grup mereka di luar Korea, mostly Jepang dan Cina, jadi setidaknya mereka harus bisa menyapa fansnya pakai bahasa lokal) dan udah gitu semua, nilai dari sekolah ngga boleh turun. Pernah baca juga, di salah satu agensi yaitu JYP, kalau nilai sekolahnya turun, mereka dikeluarkan dari trainee system. Kadang orang suka melihat sesuatu pas dari suksesnya aja tanpa tahu untuk mencapai sukses itu diperlukan dedikasi dan persistensi yang kuat. Aku kalau disuruh untuk bisa multi-talented gitu juga keburu kena tipes duluan kali di 2 bulan pertama. Dan entah kenapa ya, menurutku tim-tim produksi Korea ini kalau bikin sesuatu misal konser atau acara TV itu niat-niat banget. Salah satu contohnya bisa dilihat di Running Man, yang paling bikin aku merinding sih episode tentang Kwang Soo ini ya. Mulai dari plot sampai properti, kok ya kepikiran aja bisa bikin seperti itu. Drama nya pun kalau Korean Drama produksinya ngga setengah-setengah. Dan biasanya mereka episode nya ngga kebanyakan dan cerita masih tetap pada alurnya, ngga tiba-tiba melenceng jadi seribu episode hanya karena faktor rating.

Kalau ditanya siapa salah satu Idol Korea yang cukup memberikan influence dalam hidupku, pastinya aku akan langsung menjawab G Dragon. Hehehehe. Dulu aku sangat menggemari dan mengagumi sosok yang bernama asli Kwon Ji Yong ini. Kalau dilihat dari penampilannya, pastinya kebanyakan orang akan mengernyitkan dahi. Sama sih, kadang aku pun masih merasa dia seperti Fashion Terrorist dibandingkan Fashionista. Tapi dari sosok leader grup Big Bang ini, aku mengambil hal positif yaitu untuk berani bereksperimen dan menjadi diri sendiri dalam hal berpenampilan. Karena dia kurang berani jadi diri sendiri apalagi coba ya, kalau setiap berangkat ke bandara bajunya selalu beyond belief. Hahahaha.

newsen_2

Salah satu contohnya ya di atas itu. His shirt looks like my mother’s shirt. Tinggal dipakaikan kerudung, and I would think it was my mother wandering at Incheon Airport. Anyhow, let alone his fashion sense, I also a huge fan of his music. Mengingat dia juga composing most of his solo songs, and believe me the music sounds so great he is a genius. He’s just what people called born to be a star. Dan akhir-akhir ini, G Dragon mengeluarkan album berupa USB  dengan konsep yang sungguhlah meaningful Walaupun konsep tersebut mendapatkan banyak kritik, tapi tetep sih buatku sangatlah keren karena dari seantero Korea ya saat itu baru dia yang kepikiran mengeluarkan konsep seperti itu. Namun dari segala kesuksesannya, G Dragon pun ngga lepas dari skandal. Mulai dari skandal plagiat, drugs sampai pacar-pacarnya. But when you idolize someone, who is happened to be a human being who of course not flawless, just take the good side and don’t take or follow their bad side. 

Jadi menurutku sangat disayangkan sekali kalau orang-orang sering menyamaratakan ataupun mencibir para penggemar Korean Wave. Karena ngga ada yang salah dengan menggemari sesuatu, yang membedakan hanya tingkatan kegemarannya tersebut. Apakah menggemari fanatik atau masih dalam tahap wajar. Yang penting memang harus terus mengingatkan diri sendiri untuk menggemari secara sehat dan tidak melupakan tanggung jawab diri kita sendiri. Apalagi kalau dengar reaksi semacam “Laki-laki kaya banci aja disukain.” atau “Ya elah itu semua kan operasi plastik, ngga mensyukuri udah dikasih wajah malah dirubah-ubah. Kok malah disukain.” Sedih ngga sih, why do you have to body shaming other people? Menghina fisik seseorang sangatlah tidak baik kawan-kawan. You have no idea what those idol have been through and you have no idea that somehow those Korean Wave those KPop music save someone’s life. And one thing, Music is universal language, you don’t have to understand the language just to enjoy the song. Plus there’s a google translate.

Cheers.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s